Startup: Antara Gengsi dan Kelayakan (Bagian 3)

Menentukan Arah Selanjutnya

Setelah memperoleh pertumbuhan yang bagus startup dapat mulai fokus pada pembenahan internal organisasinya. Bentuk badan hukum perseroa n terbatas tidak mensyaratkan secara detail bagaimana stru ktur organisasi suatu perseroan di bawah direksi harus dibentuk.

dalam undang-undang no. 40 tahun 2007, hanya diatur tentang komisaris dan direksi perusahaan. struktur selebihnya di bawah direksi sesuai pola manajemen masingmasing perusahaan. pada umumnya, startup mengenal posisi chief executive officer (ceo) dan chief technical officer (cto) sebagai jabatan para pendirinya. hal ini sama saja dengan posisi direktur pada suatu perusahaan jika sudah berbentuk badan hukum perseroan terbatas.

Pembenahan struktur organisasi memerlukan kajian fungsi kerja strategis yang diperlukan dalam startup seperti bidang teknis, business development, sales and marketing, dan fungsi management support yang terlebih dahulu dipetakan talu dilakukan perekrutan sesuai skala bisnis startup tersebut.

Untuk lebih memudahkan dalam operasional bisnis dan penyusunan organisasi perusahaan, harus diperhatikan aspek human resource-nya. Adapun dalam membentuk strukturnya adalah sebagai berikut:

Personel Admin adalah bagian mendasar yang harus dibangun, yaitu masalah administrasi setiap karyawan agar mendapatkan setiap haknya yang paling mendasar sebagai seorang karyawan. Hak tersebut adalah gaji bulanan yang rutin, THR, fasilitas BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, jatah cuti, izin sakit, dan lainnya. Intinya di aspek personel admin, kita harus dapat memberikan hak dasar dari setiap anggota organisasi dengan sebaik mungkin. Pemberian hak beserta pencatatannya termasuk ke dalam area ini.

Employee Relation pada tahap kedua setelah hak dasar dari setiap karyawan terpenuhi, maka hal kedua yang harus diperhatikan dalam human resource adalah relasi antar karyawan, baik antara manajer dan karyawan, maupun di antara karyawan sendiri. Hal penting dalam employee relation adalah engagement, oleh karena itu perlu diperhatikan hal sebagai berikut:

  • Banyak penelitian telah menyebutkan bahwa faktor tertinggi alasan seseorang keluar dari suatu perusahaan adalah karena relasi yang buruk antara manajer dan stafnya. Hal ini dapat diketahui dari cara manajer memberikan perintah, memberikan umpan balik, dan perlakuan terhadap staf. Berdasarkan hal tersebut karyawan dapat mengetahui karakter pimpinannya, empatinya, maupun hal-hal lainnya. Manajer yang buruk menjadi salah satu penyebab karyawan tidak dapat bekerja dengan optimal.
  • Dalam kondisi perusahaan yang masih berjuang pada tahap awal, diperlukan konsep pertemanan yang mampu memahami bahwa semua pihak sedang berusaha sebaik-baiknya untuk bergerak menuju kondisi yang ideal. Pertemanan antar karyawan juga sangat berpengaruh untuk saling menguatkan antara satu dengan yang lain.
  • Dengan segala keterbatasan yang dimiliki sebuah startup, setiap karyawan bahkan co-founder juga akan merasa “rumput tetangga selalu tampak lebih hijau daripada rumput sendiri”. Itulah mengapa visi menjadi sangat penting karena di sanalah terdapat nilai-nilai dasar yang menyatukan sehingga startup akan memiliki alasan kuat dalam kondisi yang belum menghasilkan uang sekalipun (hal ini sering kali menjadi masalah pertama yang pasti dihadapi sernua pelaku startup).
  • Setelah kondisi-kondisi di atas dapat teratasi. maka tahapan selanjutnya adalah merapikan tagi konsep apresiasi terhadap sumber daya karyawan. tidak hanya hingga level “sudah terbayarkan” semata, namun apakah cukup memotivasi—yang terpenting juga apakah hal itu dirasa adil. Maka, hal penting pada fase ini adalah internal fairness, yaitu bagaimana agar mekanisme reward yang diberikan menjadi sistem kompensasi yang menarik dan adil.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*