Startup: Antara Gengsi dan Kelayakan (Bagian 4)

Mulai Kecil lalu Bertumbuh Besar

Startup seperti pada umumnya dimulai pada skala kecil, bertumbuh, berkembang besar, dan terus berinovasi. Inovasi diperlukan agar startup terus aktif meluncurkan layanan, produk, atau fitur baru. Menurut Eric Ries dalam Lean Startup, tim startup harus memiliki kewenangan total untuk mengembangkan dan memasarkan produk baru dalam kapasitasnya yang terbatas. Tim harus diperbolehkan menggagas dan melaksanakan eksperimen tanpa perlu meminta izin terlebih dahulu dari banyak pihak.

Pada awalnya startup berdiri dengan pendanaan mandiri (bootstrapping) sebelum adanya angel investor atau venture capital investor. Guy Kawasaki dalam Reality Check menerangkan tentang bootstrapping bahwa terdapat hal-hal pokok yang sebaiknya dikerjakan, yaitu:

Fokus pada cash flow, bukan keuntungan. Realita dalam bisnis adalah tagihan yang harus dibayar tunai. Jadi, fokus pada cash flow membuat startup mulai berbisnis dengan persyaratan modal yang kecil sejak awal, siklus penjualan yang pendek dan pendapatan yang berulang. Nar-nun jika startup dapat membayar tagihan dengan profit yang diperoleh karena profit adalah kunci untuk bertahan, akan lebih baik.

Perkiraan dari bawah ke atas. Perkiraan seperti ini memungkinkan startup untuk memperoleh angka rasional dalam penjualan seperti perkiraan membuka sepuluh fasilitas instalasi pada tahun pertama. Pada rata-rata harian, setiap fasilitas bisa memasang sepuluh sistem. Jadi, perkiraan penjualan tahun pertama sekitar 10 fasilitas x 10 sistem x 240 harl 24.000. Hal ini cenderung mendekati angka riil daripada perkiraan atas ke bawah yang menghitung berdasarkan persentasi jumlah populasi seperti: jika terdapat 150 juta mobil, potensi pasar 1% yang diperoleh adalah Rp1,5 juta.

Kirim, kemudian ujilah. Bukanlah produk yang sempurna di awal yang dikehendaki karena kesempurnaan datang seiring dengan bertambahnya waktu. Dengan mengirim maka startup juga mempelajari apa yang sebenarnya diinginkan konsumen untuk diperbaiki. Namun, startup juga tidak bisa sembarang mengirim produk tertebih produk yang buruk, tetapi juga tidak bisa menunggu sampal produk itu sempurna (hal ini tidak berlaku bagi startup bidang life-science).

Lupakan tim yang “terbukti”.¬†Gaya hidup bootstrapping adalah tim yang berisi orang muda, bayaran rendah, dan pekerja keras, dan jadikan mereka karyawan yang hebat. Namun, jika mencapai cash flow yang signifikan rekrutlah supervisor yang berpengalaman.

Mulailah sebagai bisnis jasa. Sebelum menyelesaikan perangkat lunak, startup dapat menyediakan konsultasi dan jasa berdasarkan progres kerja pada perangkat lunak. Hal ini mempunyai dua keuntungan, yaitu hasil yang segera dan konsumen yang sebenarnya menggunakan perangkat lunak. Begitu perangkat lunak digunakan dan bersaing maka segera jadikan sebagai produk perusahaan.

Fokus pada fungsi, bukan bentuk. Fungsi ini tidak memerlukan bentuk yang lebih mahal karena bootstrapperfokus pada fungsi bukan bentuk.

Pilih sedikit pertarungan. Bootstrapper memilih pertarungannya, mereka tidak bertarung di garis depan karena mereka tidak bisa membayar hal itu.

Kekurangan staf. Banyak entrepreneur memiliki staf lengkap untuk segala permasalahan. Berbeda halnya jika bootstrapper yang kekurangan staf mengetahui bahwa semua petaka bisa terjadi.

Langsung. Toko-toko menyediakan tempat yang bisa dicapai konsumen dan pihak grosir menyediakan distribusi. Jika startup tidak menciptakan demand semua distribusi di dunia akan membuat startup tidak mendapatkan apa pun.

Posisikan diri melawan pemimpin pasar. Pada awal peIUncuran Lexus, Toyota memperkenalkan barisan mobil¬†Lexus dengan memosisikannya sebagai mobil yang sebaik Mercedes, tetapi dengan harga setengahnya. Toyota tidak perlu menerangkan apa arti “sebaik Mercedes”.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*